Astana Gede Kawali – Ibukota Kerajaan Galuh Masa Lalu

Astana Gede Kawali – Ibukota Kerajaan Galuh Masa Lalu

Astana Gede Kawali – Ibukota Kerajaan Galuh Masa Lalu

Prasasti III Astana Gede Kawali (Foto: Deni Sugandi)

Prasasti III Astana Gede Kawali (Foto: Deni Sugandi)

Wisata Indonesia – CIAMIS memiliki asal usul yg panjang.  kawasan ini dahulu memiliki peranan yg sangat penting sebab menjadi pusat kerajaan Galuh, suatu kerajaan besar di Jawa Barat yg berdiri sejak abad VII.  Salah satu lokasi yg pernah menjadi Ibu Kota Kerajaan Galuh adalah Kawali.

Saat ini sisa-sisa peninggalan kejayaan Kerajaan Galuh di abad ke-14 Masehi dapat dilihat di Situs Astana Gede Kawali. Menariknya, tinggalan arkeologis yg terdapat di situs ini berasal dari tiga budaya yg berbeda, adalah antara budaya lokal, budaya Hindu serta Islam. Beberapa tinggalan arkeologis yg terdapat antara lain 6 buah batu prasasti, 3 buah batu menhir serta 11 buah makam.

Lokasi Situs Astana Gede Kawali

Situs Astana Gede Kawali terletak di Dusun Indrayasa, Kecamatan Kawali, sekitar 21 km dari kota Ciamis ke tujuan Utara. Di dalam situs ini terdapat banyak peninggalan arkeologis.

Situs ini memiliki luas sekitar 5 ha. terletak di kaki Gunung Sawal, bentang alamnya dikelilingi oleh pepohonan yg rimbun serta tinggi oleh sebab itu membagikan hawa yg sejuk serta aura mistis yg kental.

Di sebelah Selatan dibatasi oleh Sungai Cibulan yg mengalir dari Barat ke Timur. Di sebelah Timur berupa parit kecil dari sungai Cimuntur yg mengalir dari Utara ke Selatan.  Di sebelah Utara, mengalir Sungai Cikadongdong serta sebelah Barat dibatasi oleh Sungai Cigarunggang.

kondisi lingkungan situs ini adalah hutan lindung yg ditumbuhi dengan bermacam jenis tanaman, tanaman/tanaman keras dari famili meliceae, lacocarpaceae, euphorbiaceae, sapidanceae serta lain-lain, tanaman/tanaman palawija, rotan, salak, cengkih dll.

Dari kota Ciamis, Situs ini dpt ditempuh dengan kendaraan, bagus motor ataupun mobil, sekitar empat puluh lima menit. kondisi jalan cukup bagus sebab sudah diaspal.

asal usul Situs Astana Gede Kawali

Konon situs diberi nama Astana Gede sebab terdapat suatu makam yg ukurannya besar, panjang sekali serta berbeda dengan makam-makam lain di umumnya. Dalam bahasa Sunda, astana berarti makam serta gede berarti besar.

namun terdapat juga yg berpendapat sebab Situs Astana Gede adalah tempat dimakamkannya orang-orang besar, atau dalam bahasa Sunda disebut gegeden. makam tersebut diduga adalah makam Pangeran Usman, yg memerintah di 1592 – 1643 M. Beliau sudah memeluk agama Islam yg adalah keturunan dari Kesultanan Cirebon.

makam Adipati Singacala di Astana Gede Kawali

makam Adipati Singacala di Astana Gede Kawali

Dilihat dari tinggalan budaya yg terdapat, Astana Gede Kawali adalah daerah campuran. adalah berasal dari periode prasejarah, klasik serta periode Islam.

Bentuk budaya dari tradisi megalitik diberi tanda dengan adanya temuan punden berundak, lumpang batu, menhir, yoni setelah itu berlanjut dengan cara berangsur-angsur ke tradisi budaya asal usul (klasik) yg diberi tanda dengan adanya prasasti, setelah itu berlanjut ke tradisi Islam yg diberi tanda dengan adanya makam kuna.

Prasasti Kawali II di Astana Gede Kawali

Prasasti Kawali II di Astana Gede Kawali

di masanya, Kawali adalah pusat pemerintahan kerajaan Galuh dengan raja-raja yg bertahta adalah Prabu Ajiguna Linggawisesa, yg dikenal dengan sebutan Sang Lumahing kiding, Prabu Ragamulya atau Aki Kolot, Prabu Linggabuwana yg gugur di peristiwa bubat, Rahyang Niskala Wastukancana yg meninggalkan beberapa prasasti di Astana Gede (Situs Kawali) serta Dewa Niskala, ayah dari Prabu Jayadewata yg selanjutnya memindahkan pusat kerajaan ke Bogor (baca juga: asal usul Kawali).

Keistimewaan Situs Astana Gede Kawali

Sebagi destinasi wisata budaya serta wisata asal usul, situs ini adalah daerah yg memikat buat disinggahi. pengunjung datang dari bermacam kawasan di Kabupaten Ciamis, serta banyak juga yg datang dari luar Kabupaten Ciamis.

selain itu, situs ini juga adalah obyek ilmu pengetahuan. Banyak tinggalan budaya masa lampau yg sudah diteliti oleh para ilmuwan seperti pakar arkeologi, pakar filologi sejarawan dsb.

Mereka datang buat meneliti mulai dari jenis batu-batuan, tulisan serta bahasanya, atau temuan-temuan lain yg sukses digali terutama oleh para pakar arkeologi.  Penelitian di Astana Gede mulai dilaksanakan di zaman Belanda, namun lebih menitikberatkan di prasasti.

Orang Eropa yg pertama kali tertarik di prasasti di Situs Kawali ini adalah Thomas Stamford Raffles (1811-1816), terbukti dia menyebut-nyebutnya dalam dalam bukunya History of Java. namun, prasasti itu baru dibaca dengan cara serius oleh Friederich di tahun 1855.

selanjutnya berturut-turut  K.F. Holle di tahun 1867 serta  J Noorduijn di tahun 1988. Dua orang filolog Indonesia yg juga membaca ulang prasasti ini adalah Saleh Danasasmita (1984) serta Atja (1990). Prasasti ke-enam ditemukan tahun 1995 oleh Juru Pelihara Astana Gede bernama Sopar.

Salah satu dari prasasti tersebut bertuliskan “Mahayuna Ayuna Kadatuan” yg dijadikan sebagai motto juang Kabupaten Ciamis.

Jadi, kapan mengunjungi ke Situs Astana Gede Kawali?




Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top